thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Archive for the ‘Western’ Category

Spongebob Must Be Happy

In Western on March 20, 2011 at 7:32 am

Bayangkan betapa bahagianya spongebob. Setiap hari berdiri di depan griller dan membalik-balik patty yang juicy, sizzling with hot grease. Yang membuat saya iri tentunya, adalah spongebob hanya 1 langkah dari sebuah burger yang, saya asumsikan, begitu lezat. Maka sampailah saya pada pertanyaan,

Where the hell can you get a good burger in this town???

Foto paling atas adalah sebuah burger yang saya beli dari salah satu stall di sebuah hawker center di Singapore bernama Botak Jones. Burger dengan patty setebal layar handphone saya, didampingi coleslaw dingin di atas 1 helai daun lettuce dan setumpuk spicy fries. Rasanya? Cukup istimewa. Rasa dagingnya begitu terasa; double patty medium grilled, dengan selembar keju di atasnya. Jika dirupiahkan harganya sekitar 70rb saja. Dan yang jelas, rasanya jauh lebih enak dari semua burger yang pernah saya rasakan di Jogja.

Maka saya bertanya, meminta pendapat, memohon kepada kalian semua untuk memberi tahu saya mana tempat makan di Jogja yang menyediakan burger lezat di Jogja. Tapi sebelumnya, tolong coret nama-nama di bawah ini dari daftar Anda. Read the rest of this entry »

Advertisements

Nuovo Pasta Gio

In Western on December 20, 2010 at 6:36 am

Ada sesuatu yang istimewa, menurut saya, dari Pasta Gio. Pertama adalah fakta bahwa Gio mampu memberikan sebuah hidangan yang ekotis tanpa membuat diri saya terasa tertipu; ketika di Gio, entah kenapa otentisitas dari rasa hidangan Italia tersebut menjadi tidak penting. Mungkin jika para leluhur bangsa Italia merasakan sepiring pasta buatan Gio akan langsung jungkir balik di alam kubur, karena resep yang telah mereka pertahankan secara turun-temurun tiba-tiba dimodifikasi sedemikian rupa. Mungkin. Saya juga belum pernah merasakan pasta buatan orang Italia. Tapi apapun itu yang dilakukan Gio, saya hanya bisa berkata bahwa Pasta Gio berada di jalan yang benar.  Dan itulah alasan mengapa saya mengulas Pasta Gio untuk yang ke-dua kali nya; Gio sekarang tidak lagi meletakkan meja nya pada sebuah garasi rumah yang claustrophobic (saya hiperbola), namun telah berpindah ke sebuah joglo yang berada di samping rumah, yang, meskipun jauh lebih luas, tetap saja penuh apalagi saat weekend.

Jika anda peduli pada hal-hal detail seperti misalnya, fakta bahwa rumah makan ini menjual PASTA di bangunan yang berbentuk seperti JOGLO -dua hal yang terasa bagaikan menawinkan Pavarotti dengan Wajinah-, Read the rest of this entry »

Generasi Parapapapa: Belanja 50rb Gratis Burger Buat Kamu

In Western on November 20, 2010 at 3:09 pm

Salah seorang teman saya yang sedang berada di negri Paman Sam suatu hari memasang status di salah satu situs jejaring sosial,

” Sebel deh kalo inget gimana orang2 indonesia sangat menganggap makanan2 barat yg ber LEMAK BANGET semacem pizza, hamburger, fries, fried chicken itu keren…. Mungkin kalo udah melihat gimana NGGAK KEREN nya makanan2 semacem itu di negerinya asalnya baru deh mereka mau berenti maem maeman2 gak sehat itu… Kangen ayam goreng…. Give me rice!!! >__< “

 

Jika saya melihat seseorang memasang quote ini di blog mereka, saya pasti langsung menduga bahwa pernyataan ini akan segera dicerca, dihina, bahkan dicaci maki mungkin, apabila dibaca oleh kaum proletarian yang menganggap bahwa makanan siap saji merupakan suatu kemewahan -tempat pelarian dari nasi rames yang telah bersifat habitual bagi mereka. Ini pernyataan yang luar biasa sombongnya… mungkin, bagi orang lain di luar sana. Tapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana pernyataan ini seolah-olah berusaha mendeskripsikan persepsi yang dimiliki bangsa kita melalui persamaan

Keren = a + b x Lemak Read the rest of this entry »

Little Gio’s Pasta

In Western on October 31, 2010 at 5:08 am

 

Ini bukan pertama kalinya saya ke Pasta Gio. Mungkin ini sudah yang ke 4 atau 5 –yang jelas alasan yang selalu mendorong saya untuk kembali ke sana adalah rasa penasaran. Dari sekian kali makan di sana saya selalu memperoleh kesan yang inkonsisten; kadang biasa saja, kadang kurang enak, dan kadang sangat enak. Alasan yang medasari saya untuk mengulas Pasta Gio kali ini adalah karena untuk kunjungan kali ini, akhirnya, Pasta Gio memberikan kepuasan yang teramat bagi perut saya.

Bagi yang belum familiar dengan Pasta Gio, warung makan ini –meskipun kadang saya merasa harganya bukanlah harga warung- terletak di daerah Sleman, arah selatan dari warung makan yang mungkin sudah lebih tersohor, Sapi Bali. Dari yang saya baca di internet, pemilik Pasta Gio adalah orang yang sama yang memiliki Sapi Bali dan Kepiting Dogen. Nah, menurut beberapa orang, yang menjadikan Pasta Gio ini spesial adalah chef-nya itu sendiri, the wonder boy Gio, anak dari sang pemilik yang katanya baru berusia 14 tahun.  Meskiun begitu pada kenyataannya, dalam mengeluarkan uang untuk makan yang, yang kita harapkan untuk menjadi pemuas adalah makanan itu sendiri; tidak peduli yang memasak adalah anak berumur 10 tahun ataupun kakek-kakek dengan kaos oblong putih berkeringat berumur 60 tahun yang mengaduk nasi goreng sembari mengusap kepala, there’s only good food, and bad food. Namun Read the rest of this entry »