thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Nuovo Pasta Gio

In Western on December 20, 2010 at 6:36 am

Ada sesuatu yang istimewa, menurut saya, dari Pasta Gio. Pertama adalah fakta bahwa Gio mampu memberikan sebuah hidangan yang ekotis tanpa membuat diri saya terasa tertipu; ketika di Gio, entah kenapa otentisitas dari rasa hidangan Italia tersebut menjadi tidak penting. Mungkin jika para leluhur bangsa Italia merasakan sepiring pasta buatan Gio akan langsung jungkir balik di alam kubur, karena resep yang telah mereka pertahankan secara turun-temurun tiba-tiba dimodifikasi sedemikian rupa. Mungkin. Saya juga belum pernah merasakan pasta buatan orang Italia. Tapi apapun itu yang dilakukan Gio, saya hanya bisa berkata bahwa Pasta Gio berada di jalan yang benar.  Dan itulah alasan mengapa saya mengulas Pasta Gio untuk yang ke-dua kali nya; Gio sekarang tidak lagi meletakkan meja nya pada sebuah garasi rumah yang claustrophobic (saya hiperbola), namun telah berpindah ke sebuah joglo yang berada di samping rumah, yang, meskipun jauh lebih luas, tetap saja penuh apalagi saat weekend.

Jika anda peduli pada hal-hal detail seperti misalnya, fakta bahwa rumah makan ini menjual PASTA di bangunan yang berbentuk seperti JOGLO -dua hal yang terasa bagaikan menawinkan Pavarotti dengan Wajinah-, maka mungkin anda akan sedikit terasa teriritasi. Tapi faktanya adalah setelah memasukkan suapan pertama hidangan apapun yang anda pesan di Pasta Gio, saya yakin anda tidak akan peduli makan di joglo ataupun lesehan di atas tikar. Bukan berarti rasa hidangan nya begitu luar biasa; sesuatu yang nikmat bagi saya dan anda pasti berbeda, karena kita pasti memiliki definisi kenikmatan yang berbeda pula. Tapi Pasta Gio menurut saya sukses menawarkan sesuatu yang berbeda, sebuah rasa dan atmosfir yang belum mampu dimunculkan oleh pesaing-pesaing lainnya.

 

creamy chicken spaghetti

fettuci a la chef Gio

Saya tidak akan menjelaskan secara mendalam bagaiaman rasa dari kedua hidangan tersebut, karena sekali lagi, hanya ada sekian kosa kata saja yang dapat digunakan untuk menggambarkan rasa sebuah makananan. Lagipula rasa dari hidangan yang ditawarkan pasta Gio sudah pernah saya review sebelumnya. Namun ada satu hal yang pasti, Pasta Gio telah membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan menawarkan eksotika. Tidak ada yang salah dengan menwarkan sebuah inovasi berupa makanan yang sebelumnya cukup asing di lidah masyarakat Jogja. Eksotisme, yang untuk sebagian besar kasus di Jogja akan tenggelam setelah jangka waktu yang tidak lama, telah dibuktikan sebaliknya. Jika, eksotisme dieksekusi dengan benar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pasta Gio (dan semoga juga oleh rumah makan lainnya yang akan muncul di Jogja) dapat menjadi sebuah sustainable business, karena daya tariknya tidak akan hilang dengan seketika.

Advertisements
  1. kata orang ini namanya “blogwalking”, pura-pura baca artikel padalah niatnya cuma mau share link http://ekonomgila.blogspot.com/ hahahahha -aulia-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: