thoughts on the appetizing food scene of Jogja

The Nikkou Atmosphere

In Japanese on December 1, 2010 at 7:43 am

Nikkou Ramen

Bawang Putih. Minyak. MSG. Dan 3 sendok makan cabe bubuk. Empat hal tersebut adalah pra-duga saya mengenai apa yang ada di dalam sebuah mangkok chilli chicken ramen di Nikkou Ramen. Tapi entah kenapa mayoritas orang selalu tersihir ketika bungkus dari 4 hal tadi diubah. Dan dengan adanya bungkus tersebut, lahir hidangan baru yang bernama ramen. Bungkus yang saya maksud adalah mangkok super besar -mangkok dengan ukuran tidak biasa yang mampu mengubah persepsi terhadap hidangan ini menjadi sesuatu yang berbeda total. Ini sama halnya dengan menambahkan susu ke dalam secangkir teh lalu menyebutnya sebagai latte. Kalau anda merasa ini sesuatu yang sewajarnya, then it’s fine by me. Tidak ada yang salah dengan meningkatkan eksotisme sebuah hidangan melalui penambahan sebuah faktor yang istimewa. Tapi apakah ketika 4 komponen tadi ditambah dengan segenggam mie,  namun dihidangkan dalam mangkok bakso bermotif ayam jago yang biasa dipakai tukang bakso keliling, lalu hidangan ini tetap akan disebut sebagai Ramen???

Jika ini masih kurang menganggu, saya bisa mulai dengan mengomentari mi yang digunakan, yang menurut saya rasanya tidak beda dengan mi yang digunakan untuk bakso bakso Bethesda misalnya. Atau fakta bahwa -menurut saya- rasa kuahnya 11-12 dengan indomie rasa ayam spesial yang ditaburi 3 sendok makan cabai bubuk. Atau kebersihan hidangan yang kurang diteliti. Atau pendapat pribadi saya yang menganggap bahwa disapa oleh pelayan dengan “IRRASHAIMASE!!” merupakan sesuatu yang menyebalkan.

Tapi saya hanya bisa kembali melihat tag-line yang digunakan oleh Nikkou: Enjoy the Atmosphere!

Tidak bisa dipungkiri bahwa variabel-variabel sepert harga atau atmosfir sebuah tempat makan mambu mempengaruhi persepsi terhadap rasa hidangan di tempat tersebut. Dan tidak ada yang salah dengan berusaha untuk menjual atmosfir, atau dengan memasang pegawai dengan rambut bergaya harajuku sebagai penunjang suasana, atau dengan mengubah nama sebuah minuman menjadi sesuatu yang unik. Di Nikkou Ramen misalnya, apabila anda melihat struk belanja anda, maka anda akan melihat bahwa air putih yang anda pesan disebut sebagai ‘holy water’.

Ini sah-sah saja.

Karena pada kenyataannya akan selalu ada konsumen yang merindukan eksotisme sebuah tempat makan yang tidak mampu disediakan oleh tempat makan pada umumnya. Akan ada konsumen yang merasa bahwa tempat makan yang diberi overdosis japonisme akan semakin memenuhi hasrat mereka akan hidangan Jepang. Selalu akan ada produk yang terbeli karena bungkus atau nuansa yang diberikannya. Nikkou Ramen dengan gazebo-nya, dengan pelayan yang akan berbicara kosa kata nihon-go nya, dengan counter kayu bertirai kain bak toko ramen di jepang nya, dan dengan mangkok super besar nya, akan selalu memiliki pelangganan yang akan setia berkunjung ke sana. Bahkan mungkin rasa ramen yang ditawarkan Nikkou bagi orang lain terasa istimewa. Ini hanya soal selera.

Tapi kalau boleh jujur, saya akan merasa lebih senang menyantap ramen dengan kuah miso simple yang lezat, ditambah telur rebus dengan kuning yang setengah matang. Meskipun saya harus menyantapnya di atas gerobak angkringan.

 

chilli chicken ramen

seafood ramen

the shop

Nikkou counter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: