thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Generasi Parapapapa: Belanja 50rb Gratis Burger Buat Kamu

In Western on November 20, 2010 at 3:09 pm

Salah seorang teman saya yang sedang berada di negri Paman Sam suatu hari memasang status di salah satu situs jejaring sosial,

” Sebel deh kalo inget gimana orang2 indonesia sangat menganggap makanan2 barat yg ber LEMAK BANGET semacem pizza, hamburger, fries, fried chicken itu keren…. Mungkin kalo udah melihat gimana NGGAK KEREN nya makanan2 semacem itu di negerinya asalnya baru deh mereka mau berenti maem maeman2 gak sehat itu… Kangen ayam goreng…. Give me rice!!! >__< “

 

Jika saya melihat seseorang memasang quote ini di blog mereka, saya pasti langsung menduga bahwa pernyataan ini akan segera dicerca, dihina, bahkan dicaci maki mungkin, apabila dibaca oleh kaum proletarian yang menganggap bahwa makanan siap saji merupakan suatu kemewahan -tempat pelarian dari nasi rames yang telah bersifat habitual bagi mereka. Ini pernyataan yang luar biasa sombongnya… mungkin, bagi orang lain di luar sana. Tapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana pernyataan ini seolah-olah berusaha mendeskripsikan persepsi yang dimiliki bangsa kita melalui persamaan

Keren = a + b x Lemak

Saya tahu teman saya ini bemaksud baik; lihat betapa biasnya dia ketika mencemooh fried chicken namun kangen dengan ayam goreng. Ya, fried chicken… dan ayam goreng. APA BEDANYA?! Seolah-olah ayam goreng Ny.Suharti memiliki bumbu magis yang mampu menghilangkan segala lemak dan kolesterol pada minyak penggorengannya. Dan Kakek Kolonel adalah syaitan nirrajim yang menambahkan substansi pencabut nyawa ekstra pada ayam gorengnya. Teman saya cinta masakan Indonesia.

Tetapi kenapa harus seolah-olah bangsa Indonesia adalah bangsa goblok yang tetap menganggap segala makanan cepat saji dari negri Paman Sam itu sesuatu yang keren meskipun sangat berlemak? Sangat tidak adil untuk membandingkan sebuah negara yang pada tahun 1920-an masih menggunakan bambu runcing dengan negara yang pada era yang sama telah menciptakan kereta bawah tanah; Di Amerika mungkin penjaja makanan yang ramah terhadap kesehatan sudah banyak, akses terhadap barang low-fat X, Y, ataupu Z hanya tinggal melangkah ke supermarket terdekat saja. Mereka sadar bahwa ketika memasak sendiri bahan-bahan yang tersedia mereka dapat menciptakan makanan yang tidak rawan melenyapkan nyawa. 1/3 bangsa mereka menderita kegemukan. Bagi mereka makan cepat saji ini barang nista yang bertanggung jawab atas terancamnya 1/3 populasinya. Maka mereka layak mencerca Ronald, Kolonel, ataupun gubuk penjual pizza.

Tapi kita? Entah saya yang menutup mata atau bagaimana, tapi saya kira saya dan teman saya ini generasi yang sama. Generasi yang tumbuh dengan menyantap ayam yang digoreng dengan minyak jelantah di sebuah warung lesehan, yang jajan di penjual gorengan penuh pengawet pada masa sekolah dasar dan menengah, serta mengkonsumsi mi instan kebanggaan bangsa yang sempat dilarang di sebuah negara Asia.

Meskipun ini terasa seperti lari telanjang di tengah kerumunan orang, tapi harus saya akui saya pecinta ayam goreng buatan Kakek Kolonel. Saya tidak ada masalah dengan burger Ronald. Tapi saya tidak terima, jika saya bersantap di sana dengan tersenyum berarti saya menganggap itu sebagai sesuatu yang keren. Saya sadar betul betapa berlemaknya makanan-makanan di sana, tapi ini soal rasa! Tunjukkan mana penjual ayam goreng yang mampu menciptakan rasa dan kualitas yang serupa. Mana burger yang mampu menandingi buatan Ronald? Mana yang mampu menjual dengan harga yang sama? Ketika kota ini penuh dengan stand burger bewarna merah dengan saus yang aneh (dan rasa daging yang lebih aneh pula), maka apresiasi terhadap burger buatan Ronald merupakan sesuatu yang wajar. Selayaknya. Burger dan fried chicken tidak lain adalah suatu bentuk orientalisme bagi kita -tidak akan pernah tersubstitusi oleh sayur lodeh atau bakmi jawa, karena mereka dua dunia yang berbeda. Dan saya masih ingin berusaha menilai postif bangsa saya -bahwa mereka bersantap di tempat Kolonel, Ronald, ataupun gubuk pizza dengan menyadari segala risikonya. Begitu pula ketika mereka menanyantap gulai otak, soto babat, nasi goreng kambing, tengkleng, ataupun hidangan INDONESIA BERLEMAK lainnya. Sekali lagi, ini soal rasa.

Sore itu saya dan seorang kawan saya bersantap di sana, hingga akhirnya teringat pernyataan teman yang sedang berada di negeri Paman Sam tadi. ‘Belanja 50rb, gratis burger buat kamu’ -promo baru Ronald. 2 potong ayam, kentang goreng besar, satu gelas soda, dan strawberry sundae habis saya lahap.

Badan saya terasa menjijikkan.

Maka begitu sampai rumah saya langsung memakai running shoes dan pergi berolahraga. Tapi ini perlakuan yang sama bagi makanan siap saji dari negeri Paman Sam, ataupun makanan Indonesia.

Advertisements
  1. jegleerr!aku bar mangan ning gubuk pizza meneh -________-

  2. coba deh baca posting ini dg gaya orasi!
    keren!
    wakakaka

  3. ian aku suka banget post ini T.T

  4. eh jangan lupakan rendang dan makanan “pencabut nyawa” dari padang!!!

  5. aku lebih sering pusing dan jantungan setelah makan kambing, iga bakar, nasi padang, lalala daripada KFC dan burger. satu2nya yang aku salahkan dari KFC dan McD adalah cola nya. Kenapa enak banget??? tapi kenapa gulanya banyak? bikin ga sehat? tulang keropos? kenapaaa?

  6. hahaha,,nek ncen pengen sehat rasah nyalaheke asal usul panganan,,tiap negara punya makanan sehat mereka dan makanan sampah mereka pula.
    french fries gak beda ama gorengan, fried chicken podo wae karo ayam goreng bacem, daging berger dan rendang sama2 berkolesterol.hahaha,,kalo mau sehat yo lotek atawa salad kalo di barat

  7. Mantep blog terbarunya Ian…..

  8. sama-sama fried chicken, tapi yg di mcD itu suhunya tinggi bgt yg bikin ga sehat bgt. tapi mbuh mematikan mana ma jelantah! haha.

    disana diremehin disini dipandang mewah. ga bs dibanding2in kan ya..

  9. yan..aku lagi baca2 blogmu nih..
    hhmmm..simply mnrtku yaa, temenmu itu kangen masakan indo dan bosen makan fast food. jelas, di US emang ga ada yg jualan nasi+daging+sayur+sambel..kalo kamu nggak ke chinese resto..yg mana itu: JARANG.
    bener katamu, kedua makanan ini bukan dalam hubungan substitusi, tapi komplementer..we do love both! dan enaknya jadi org indo, kita punya dua2nya–americans nggak, kasian deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: