thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Eid Mubarak! Eksperimen Hari Eid el’Adha

In Random on November 19, 2010 at 10:18 am

Hari Raya merupakan hari yang unik, terutama bagi saya, karena setiap hari raya selalu saja ada masalah. Entah dua keluarga yang ingin kumpul di dua tempat yang berbeda hingga akhirnya keluarga besar tidak bisa berkumpul lengkap, atau ada sedikit masalah dengan mobil sebelum mudik, atau masalah dengan rumah sehingga tidak dapat dintinggal. Pasti ada masalah. Ditambah lagi saya sudah cukup mati rasa; sebuah hari yang bersifat festive entah itu religius atau tidak, bagi saya tidak ada bedanya dengan hari biasa. Normal. Hambar. Bukan berarti saya menganggap perayaan itu sesuatu yang trivial dan tidak bermakna -saya masih menyimpan apresiasi terhadap perayaan hari raya beragama. Namun sholat idul adha tetap saja terasa seperti berkumpul di masjid untuk melaksanakan ibadah di hari Jumat biasa. Daging? Itu bonus saja. Mungkin saya kurang memaknai esensi dibalik Eid al-Qurban. Tapi selama ini hari-hari raya itu saya rayakan hanya bersama orang tua saya -begitu juga hari-hari lainnya. Tidak ada bedanya.

Tetapi Idul Adha kali ini cukup berbeda. Saya dan Bimo mendapat ‘kehormatan’ untuk memasak bersama di rumah kawan kami bernama Geri. Kehormatan mungkin sebuah ekspresi hiperbola, tetapi ketika sudah berbicara dalam konteks Gerindra Y. Wardhana (nama lengkap Geri), sesuatu yang hiperbolis ini menjadi sebuah understatement. Geri, adalah seorang neat freak! Selain fakta bahwa rumah nya baru, keadaannya super bersih dan terorganisir dengan sedemikian rupa. Seperti prop rumah dalam sinetron atau semacamnya; rumah yang diciptakan tidak untuk dihuni. Mungkin kamar saya yang penuh dengan benda berserakan dan lantai yang sedikit kotor (percayalah, definisi kotor bagi Geri berbeda dengan definisi kotor mahasiswa proletarian) di mana saya biasa tidur di lantai dengan telanjang dada, bagi Geri merupakan liang sampah.

Setelah daging bagi jatah sohibul qurban berada di tangan, sayang langsung menuju kuil suci Geri untuk memasak. Sore itu kami memutuskan untuk melakukan sedikit eksperimen. Yang akan kami masak adalah fettuccine carbonara dengan beef-fat infused olive oil, black(ened) rice, chicken wings, dan sebagai collateral apabila seluruh eksperimen kami gagal, adalah kare (atau gulai?) sapi yang kami buat dengan gabungan bumbu instan ind*food rasa kare dan gulai sehingga tidak mungkin gagal.

Chicken wings sudah mengalami proses marinade satu malam dengan campuran kecap asin dan sambal bangkok. Saya sempat kaget ketika membuka kulkas dan melihat bahwa ternyata Geri menghabiskan satu botol penuh kecap asin, sehingga 12 potong sayap ayam ini ‘berenang’ dalam substansi sodium yang akan membuat penderita darah tinggi manapun mati seketika setelah melahapnya. Alhasil chicken wings kami rasanya luar biasa asin (dan sedikit gosong saat proses penggorengan). Meskipun masih layak untuk dimakan, eksperimen no.1 ini kami anggap GAGAL.

failed experiment no.1 : chicken wings

Eksperimen no.2 adalah black(ened) rice. Untuk menu yang satu ini kami ingin sedikit bermain dan menciptakan nasi yang berwarna hitam, tanpa beras hitam. Yang pertama kali kami lakukan adalah menggoreng dengan sedikit minyak bumbu instan rawon buantan ind*food dan menambahkan banyak bawang putih. Bumbu rawon yang telah di digoreng lalu ditambahkan santan lalu dimasukkan ke dalam rice cooker yang sudah diisi beras putih biasa dan sedikit air, lalu dimasak. Meskipun ternyata hasilnya tidak sehitam yang kami bayangkan, black(ened) rice ini cukup sukses karena ternyata rasanya nikmat -seperti nasi uduk dengan tambahan rempah. eksperimen no.2 : SUKSES.

succesful experiment no.2 : black(ened) rice

Eksperimen kami yang ke-3 adalah fettuccine carbonara with beef-fat infused olive oil. Proses pembuatan dimulai dengan menggoreng lemak sapi dalam minyak zaitun hingga lemaknya meleleh dan menyatu.

beef-fat infused olive oil

Lalu kami memasukan sosis (yang penuh dengan pengawet dan warna yang menyala -hanya ini yang tersisa di kulkas Geri) ke dalam minyak hasil lelehan lemak sapi, dan memasukkan ‘carbonara’ yang sudah kami persiapkan. Carbonara -seperti yang kami pelajari dalam waktu 10 detik dengan menonton episode black&white Rome Anthony Bourdain- adalah telur, lalu fifty-fifty pecorino dan keju-yang-entah-apa-namanya yang tidak ada di supermarket apapun di Jogja. Substansi ‘carbonara’ yang kami ciptakan merupakan suatu kegagalan yang dapat dianalogikan seperti film 2012; kehancuran total, biaya produksi tinggi, dan hasil yang mengecewakan. Carbonara yang kami ciptakan tidak lain adalah telur dadar dengan potongan keju cepat leleh. Ditambah lagi melelehkan lemak begitu saja dengan minyak zaitun merupakan ide yang buruk. Minyak yang dihasilkan memiliki aroma daging mentah khas sapi yang sangat tajam. Rasa minyaknya bagaikan memakan keringat sapi yang lelah setelah lari ketakutan sebelum disembelih.  Fail!

failed experiment no.3: fettuccine carbonara

Dan hidangan akhir yang menjadi pelengkap sekaligus penyelamat tiga umat Tuhan di hari raya ini adalah gulai/kare sapi.

gulai/kare sapi

Meskipun hampir semua hidangan yang kami persiapkan gagal, tetapi saya merasa kami masih memperoleh esensi yang merupakan faktor signifikan dalam pengalaman bersantap yang sempurna: company. Siapa yang menemi di saat makan merupakan faktor eksternal yang memiliki kekuatan mengubah sepiring tahi ayam menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan. Faktor ini mampu merubah persepsi akhir sebuah pengalaman bersantap dengan premis there’s only good food and bad food sekalipun. Sepiring tahi ayam tetap mampu menjadi sebuah pengalaman yang berharga, apabila ditemani dengan orang-orang yang luar biasa.

Cheers to Geri for being a silent, but great host. (dan Bimo tentunya)

Bimo and the host, Geri

Advertisements
  1. 3 lelaki rumah tangga mencoba untuk masak
    ahahaha

    aduh itu maneman banget tau fettucine nya
    ckckck

  2. wah masih ada sisa ga neh??

  3. blackend rice kemaren gw cobain sma ayam KFC rasanya sampah abis.wkwkwk

  4. gillaa kalian masak sendiri??
    aku mau nyoba yg experiment no.2 dong yaan.bikin lah kapan2.hahah

  5. kapan2 ajak aku yaan,,bek gagal minimal aku iso gawe sego goreng

  6. haghaghag
    guling guling.. kalian hebat!

    tp msh lumayan msak sate qurban rame2 di rmhku dulu itu,haha.

    ayok masak bareng lg, akika join dooong..
    hikikiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: