thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Judi Sate Cak Amat

In Jowo on November 16, 2010 at 9:13 am

Jika Obama pada waktu berkunjung ke Jakarta menggaris bawahi pentingnya pluralisme beragama, minggu yang lalu saya belajar pentingnya pluralisme berwisata kuliner. Tidak ada hubungannya memang. Ditambah lagi membandingkan sebuah kegiatan mencari makan demi memenuhi nafsu duniawi untuk mencapai orgasme lidah dan perut merupakan sebuah blasphemy. Tapi yang menyamakan pidato Obama dengan peristiwa yang baru saja saya alami adalah keduanya memberikan pencerahan tentang pentingnya memiliki pemikiran terbuka. Kadang memang harus tertampar dulu untuk bisa sadar dan melihat dengan lebih jelas apa yang sebenarnya kita lewatkan selama ini. Bagaikan remaja yang hanya bisa memendam fantasi, lalu untuk pertama kalinya dia memberanikan diri untuk melihat film biru dan akhirnya berteriak di dalam hati, “ternyata banyak hal yang lebih liar di luar sana!”

Seperti yang biasa terjadi ketika memikirkan rencana makan dengan saya, pada hari itu saya dan dua kawan saya ribut di salah satu tempat yang menjual donat di jalan kaliurang. Bukan ribut a la artis tanah air yang pukul-pukulan di club atau bar tentunya, tapi kami sedikit adu mulut untuk memutuskan enaknya ke mana kami makan malam hari itu. Kawan saya yag biasa dipanggil ‘Boss’ hanya mau makan di tempat yang dekat -terletak di daerah kota, dan sesuai dengan kriterianya (bukan daging kambing, jeroan, dsb). Boss lalu mengusulkan untuk makan di Sate Cak Amat. Usulan ini akhirnya langsung saya tolak karena ketika menyebut nama sate, langsung muncul nama-nama para sesepuh, para suhu, para legenda dunia per-sate-an yang selama ini saya puja dan agung-agungkan; Sate Kronggahan Pak Tris, Sate Klathak Mas Barry, Sate Hj. Dakir, Sate Karang. Who the hell is Cak Amat?!

Mencoba-coba warung sate bagaikan berjudi dangan sugesti yang buruk -setiap pilihan selalu didasari asumsi bahwa probabilita memperoleh kemenangan adalah sangat kecil. Sepiring sate adalah ladang komponen yang tidak sehat: kacang goreng, minyak, kecap yang berlimpah, dan lemak ayam/kambing (di bagian ujung akhir tusuk sate biasanya terdapat segumpal lemak). Jika sate yang dimakan tidak enak, yang tertinggal hanyalah lemak dan kolesterol. Cost dari mengkonsumsi sebuah sate terlalu besar sehingga harus ditutupi oleh benefit yang lebih besar. Benefit yang diperoleh dari rasa sate yang istimewa.

Sayangnya pada sore itu saya kalah suara. Boss dan kawan yang satu lagi tetap bersikukuh dengan pilihan mereka untuk makan malam di Sate Cak Amat. Maka akhirnya saya pun berjudi.

Sate Cak Amat (si Boss yang pakai jumper abu2. LOL)

Sebuah sore yang mendung di daerah Kota Baru, di daerah yang ketika siang hari digunakan untuk berjualan nangka, kami memesan sate ayam, sate ayam campur uritan, dan -yang cukup jarang ditemui- gule balungan kambing, di tenda Cak Amat. Dalam waktu yang cukup singkat, piring berisi sate penuh pesimisme itu pun tiba. Salah satu premis penolakan sate Cak Amat terbukti salah: posri nya besar. Untuk harga yang dipatuk ternyata Cak Amat cukup murah hati, sate ayam campur uritan seharga 13ribu perak berisi 10 tusuk sate yang besar-besar. Dalam gigitan pertama, premis saya yang ke-dua juga terbantahkan: sate nya enak! Bumbu kacangnya tidak terlalu banyak sehingga tidak menurutpi rasa dari kecap dan daging ayam itu sendiri. Lalu pesanan gule kambing saya datang. Dan lagi-lagi saya terbukti salah. Rasa kuahnya mantap, tidak terlalu tajam, tidak terlalu kenta. Pas. Daging kambingnya empuk. Dan ternyata saya menang pada judi kali ini. Dalam gule kambing terdapat tulang kambing yang besar-besar dan telah dipecahkan, sehingga sum-sum tulang dapat disedot. Jackpot!

Sate Cak Amat

Gule Kambing

Saya pun akhirnya hanya bisa mengaku salah dan berkata bahwa Sate Cak Amat ini layak diacungi jempol. Boss sontak berkata, “Pengen tak bandem sendal kowe!” (Boss ingin melempar saya dengan sandal). Saya hanya bisa tertawa mengingat silat lidah di toko donat.

Dari yang mulanya terpaksa untuk makan di Sate Cak Amat, akhirnya saya justru yang paling menikmati. Entah berapa banyak tempat makan enak yang akan saya lewatkan jika terus menutup mata terhadap hal baru. Life is too short lah!

Advertisements
  1. koe critane lebaaay deh.. Ahaha penggunaan bahasanya itu lho ahaha

    sok2an pernah ke cak amat dan brani ngomong nda enak -___-

  2. kamu jarang makan sate ayam po? aku malah kayaknya belum nemu sate ayam yang ngga enak.

    apa sate pak triss.. itu paling diiyik2 orang rumahku.. :DDD enakan pak jogo…

  3. enaaaaakk kaaan
    sumsum tulangnya ngawe-awe loo yan.haha

  4. paling enak sate ayam madura ah ahaha

  5. sate ambal wis tau rung yan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: