thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Sego Godhog

In Jowo on November 14, 2010 at 8:41 am

Suatu ketika saat sedang berada di dalam mobil, seorang kawan bercerita kepada saya bahwa dia baru saja memakan sebuah masakan yang belum pernah saya dengar sebelumnya; sego godhog. Tempatnya di daerah Bantul dan perlu melawati gang yang sempit dan gelap. Bahkan sekarang saya sudah lupa bagaimana caranya ke sana. Yang jelas, setelah kawan saya ini bercerita tentang sego godhog, saya langsung tidak sabar untuk mencobanya. Beberapa hari setelah itu pun saya dan kawan-kawan SMP saya menuju ke sana.

Sebenarnya saya agak bingung mau menyebut tempat makan ini warung atau rumah. Tempat makannya di dalam bangunan rumah setengah jadi; bata yang direkatkan semen beratapkan genteng, tanpa pintu dan kaca jendela. Penerangan ‘rumah’ ini menggunakan lampu cahaya kuning yang sangat redup. Bahkan cafe remang-remang menjadi terasa tidak romantis dibandingkan dengan penerangan super-redup sego godhog. Tapi ‘dapur’ sego godhog terletak di luar menggunakan tenda, jadi saya sebut sebagai warung makan saja. Dari dapur yang terbuka terlihat bahwa sego godhog ini memiliki cara masak dan bahan yang mirip dengan bakmi jowo yaitu menggunakan anglo dan wajan kecil yang mirip mini wok.

dapur sego godhog

Kami pun memesan masing-masing satu sego godhog dan teh hangat. Teh hangat disajikan dengan gula batu dan disediakan gelas tambahan jika ingin menambah. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sego godhog kami datang. Sego godhog ternyata sangat mirip dengan bakmi jowo yang menggunakan ayam kampung, daun bawang, dan taburan bawang goreng. Yang membedakan dengan bakmi jowo ghodog biasa adalah kuahnya yang manis dan sedikit asam karena menggunakan kecap dan saus tomat. Sayangnya saus yang digunakan adalah saus ‘bagong’ yang biasa dipakai oleh penjaul mie ayam yang rasanya entah kenapa terasa sangat artificial dan warnanya mirip dengan pewarna t-shirt tie-dye. Sego godhog ini disajikan dengan timun dan kol yang menurut saya tidak perlu.

 

sego godhog

Pada akhirnya menurut saya yang menjadikan sego godhog ini unik hanyalah penggunaan nasi dan bukan mi atau bihun seperti pada umumnya. Tapi hal itu belum cukup untuk menjadikan makanan ini istimewa. Karena nasi yang digunakan lembek disatukan dengan kuah yang kental maka tekstur akhir yang dihasilkan sangat asing di lidah. Seperti bukan nasi namun bukan bubur juga. Penggunaan saus tomat dan kecap juga menjadikan sego godhog memiliki rasa seperti nasi goreng yang berkuah.

Rasanya perjalanan yang sangat jauh melewati gang yang sempit dan gelap pula kurang sepadan dengan apa yang didapatkan di atas piring. Tidak ada insentif bagi saya untuk kembali ke sana lagi meskipun menu unik sego godog menjadi pengalaman tersendiri. Tetapi yang jelas sego godhog membuat saya ingin mencoba -apabila mengunjungi warung bakmi jowo yang enak seperti Mbah Mo ataupun Pak Pele- untuk bertanya, apakah bisa dibuatkan sego godhog, dengan rasa mereka.

Advertisements
  1. yan tulisanmu mainstream ya? ehehe… *iseng nanya

    eh mbok nulis tentang bebek rica2 depan rumahku. itu lebih enak daripada satemu dan beberapa makanan yang pernah kita coba. itung2 aku promosiin tetanggaku

  2. sego godhog nii keknya deket rumahku deh yan.. mie kepek bukan?ayoookkk kesana..

  3. sego godhog Pak Parno Borobudur, apakah sudah kamu coba ian? Hitz looh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: