thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Nasi Goreng & Bakmi Pasar Pathuk

In Chinese on November 6, 2010 at 8:43 am

Saya termasuk salah satu penggila bakmi, terutama bihun. Menurut saya bihun selalu lebih aman dibandingkan dengan mi karena teksturnya yang sedikit lebih renyah sehingga tidak mudah untuk dimasak terlalu matang dan menjadi lembek. Kadang yang paling menyebalkan ketika mencoba sebuah warung mi di pinggir jalan adalah ketika mi yang digunakan berupa mi kuning tebal yang menurut saya tekstur dan rasanya mirip karet sandal. Tetapi entah itu mi, bihun, ataupun nasi, yang menjadi kunci tetaplah bumbu yang digunakan untuk menghasilkan rasa.

Sering kali saya pesimis ketika diajak makan di warung bakmi, karena hampir semua warung bakmi –entah yang memiliki embel-embel ‘Surabaya’, ‘Bandung’, ‘Jakarta’ ataupun embel-embel lainnya- biasanya ya mi dengan bumbu dan aroma yang itu-itu saja. Tapi menurut dua orang kawan saya, dan dari apa yang saya baca, warung bakmi depan Pasar Pathuk memiliki keistimewaan tersendiri. Dan akhirnya pun malam itu kami ke sana.

Saya tidak tahu nama warung bakmi ini apa, yang jelas letaknya di pinggir jalan utama, persis di depan Pasar Pathuk. Meskipun terletak di pinggir jalan, harganya bukan harga pinggiran. Satu porsi nasi goreng diberi harga Rp17.000 sedangkan bakmi atau bihun harganya Rp17.500. Tapi porsi makanan di warung ini sangat besar sehingga bisa dijadikan justifikasi harga. Malam itu kami memesan nasi goreng, bakmi goreng, dan untuk saya bihun goreng; masing-masing satu.

bihun goreng Pasar Pathuk

Bihun goreng pesanan saya datang paling akhir. Porsinya benar-benar besar. Masakan di warung ini dimasak dengan suhu yang sangat tinggi sehingga ketika dihidangkan bihun masih dalam kedaan sangat panas dengan asap mengepul. Rasanya cukup enak, namun dugaan saya di awal rupanya benar, perbedaannya tidak signifikan dengan bihun goreng yang dijual di warung-warung lain. Hanya saja minyak yang dipakai sangat banyak dan memiliki rasa gurih yang berbeda. Kekkian yang dipakai untuk bihun juga enak sehingga menjadi nilai tambah dibandingkan dengan warung bakmi lainnya. Bakmi goreng yang dipesan memiliki rasa yang sama dengan bihun goreng. Namun sayangnya mi yang digunakan adalah mi ‘karet sandal’. Yang justru tidak terduga adalah nasi gorengnya. Secara fisik nasi goreng ini terlihat terlalu biasa karena telur dan dagingnya tercampur terlalu merata dan dipotong kecil-kecil sehingga yang terlihat hanya nasi saja. Tapi rasa dari nasi goreng ini sangat enak. Yang menjadikannya istimewa aroma asap –bukan asap secara literal yang mengepul namun aroma asap seperti halnya pada daging asap- yang pekat dipadu dengan rasa gurih yang khas. Diantara ketiga makanan yang kami pesan, hanya nasi goreng yang rasanya mampu meninggalkan kesan hingga hari ketika blog post ini ditulis. Sayangnya waktu itu nasi goreng bukan pesanan saya sehingga hanya mencicipi beberapa sendok saja.

nasi goreng Pasar Pathuk

Advertisements
  1. wah lagi nyari referensi nasi goreng enak di jogja nih, nanti perlu di survey thanks atas infonya

  2. hahahaha, sidane tokparani juga :))

    kui jenenge bakmi bah bagus yan.

  3. Buat pembaca yg laen, (yg sempat baca). Nama warung nasgor ini sbenernya diambil dr nama akong-nya (papa dr om2 yg baru masak di foto itu —– nama akong si dipanggil Dyam, lebih terkenal as “bah bagus”, sebab meskipun sudah tua, dengan aneh postur wajah dan tubuh sperti tidak banyak menua, hampir sama saja sperti waktu saya berumur 4 tahun, sampe skarang usia 31 tahun ), sudah terkenal lebih dari 60an tahun lamanya di kalangan warga Tionghwa asli jogja (skarang mungkin sudah seindo dah), sama sperti halnya Restoran Tiong San (restoran Mahkota namanya sekarang) dan restoran Lie Djiong. Warung di foto ini (dipegang generasi ke 2) hanyalah cabang dari tempat utamanya, yg letaknya nda jauh dr RS PKU Muhammadiyah.

    Menu pualing nyessss nya ya cuma nasgor (bakmi si kegemaran almarhum bobo saya). eEeeeeiiittt , jd klo dia yg tulis pasti menu idaman bakmi), . Kalo pesan, makanya jangan cuman nasi goreng (hahaha, si penulis di wordpress ini aja bilang nasgor biasa enak) . Tapi nasgor khasnya dunk. Khas nya yaitu “nasi goreng sayur plus kekian”.
    Menu lain yang saya rekomen adalah bihun kuah, cap cay kuah, cap cay goreng. Citarasa semua masakan tidak berubah sedari 60an tahun lalu sampe skarang.

    Cuma….mohon maaf, untuk warga muslim, saya tidak rekomendasi warung ini. Well, tahu sama tahu lah, sumber rasa khas yg bikin nda brenti makan itu dari mana.

    Peace. Balik jogja, aku mo pesen 3 piring, tak makan sendiri. KangeeeeeeeeeeeNnnNnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: