thoughts on the appetizing food scene of Jogja

Old-school Sun Kie

In Chinese on November 1, 2010 at 2:40 pm

Pertama-tama mungkin sebaiknya saya sedikit bercerita. Meskipun banyak yang bilang saya memiliki darah cina, sayangnya saya tidak dibesarkan dengan budayanya. Lagipula saya belum hidup cukup lama. Sehingga, sebenarnya saya orang yang tidak memiliki kualifikasi untuk menilai sebuah restoran cina otentik atau tidak. Tetapi setiap aspek dari rumah makan yang terletak di daerah Sayidan ini begitu old-school, klasik; satu langkah ke dalam, tengok sekitar, dan lihat menu. Seluruh panca indra saya seolah tidak bisa mengelak bahwa Sun Kie adalah rumah makan cina dengan nuansa yang sangat otentik.

Bimo Sujatmoko

Featured guest kali ini adalah Bimo Sujatmoko. Kawan saya ini saya anggap sebagai biangnya chinese food (tanya kenapa? Haha). Setiap kali ada perbincangan mengenai masakan cina, Bimo sering kali menyebutkan nama Sun Kie. Menurut Bimo, Sun Kie tidak kalah enaknya –atau bahkan lebih enak- dari rumah makan yang juga menyajikan masakan cina otentik, Lie Djong. Karena sudah lama penasaran, maka pada akhinya malam itu kami memutuskan untuk makan di sana.

Perlu saya elaborasi bahwa otentisitas di sini adalah untuk masakan peranakan cina Indonesia, cina Jogja. Bukan mainland China. Restoran cina seperti Sun Kie bukan restoran cina yang menyajikan bebek peking atau berbagai hidangan dengan saus XO. Mereka adalah restoran yang menyajikan fu joeng hay, capcay, ko lo kie, ya makanan-makanan seperti itu lah. Menu di rumah makan ini adalah salah satu hal yang membuat saya tersenyum; kertasnya kusam seolah-olah menu ini tidak diganti dalam waktu yang lama dan makanannya masih dieja a la tempoe doloe (kalau saya tidak lupa di menu tertulis fu atau foe joeng hay). Bahkan ada menu-menu dengan nama yang belum pernah saya dengar seumur hidup, seperti jan ki keu, yang tetap mereka tulis seperti itu tanpa penjelasan apapun seolah-olah semua orang yang datang ke sana sudah tau itu apa!

Akhirnya saya dan Bimo –yang dengan baik hati menahan diri karena makan dengan saya- memesan ayam kecap, foe joeng hay, dan jan ki keu yang ternyata, adalah caisim dengan ayam. Sambil menunggu masakan yang datangnya cukup lama, Bimo mengambil sesuatu di meja dekat kasir yang ternyata adalah koran berbahasa cina! Dinding ‘rumah’ makan Sun Kie dihiasi dengan hiasan khas cina seperti simbol yin-yang dan suatu lukisan yang mirip dengand dewi quan in. Masih menunggu, saya memutuskan untuk melihat-lihat ke dapur. Yang memasak hanyalah sang nenek dibantu oleh 1 asistenya. Dan ternyata di sini makanan dimasak menggunakan kayu bakar. Tidak ada kata-kata lain yang dapat menggambarkan Sun Kie selain old-school, klasik, otentik.

kayu bakar

dapur Sun Kie

Akhirnya pesanan kami datang dan kami sudah tidak sabar untuk makan. Foe joeng hay, jan ki keu, dan ayam kecap. Jan kie keu nya pas; rasanya tidak seperti kebanyakan masakan cina yang terlalu tajam. Foe joeng hay nya sedikit mengecewakan, rasa sausnya kurang enak, dan yang lebih disayangkan lagi saus tomatnya dibuat dengan saus yang memiliki merah mengerikan, ya semacam saus Bagong. Lalu ayam kecap nya… ayam kecap nya… orgasmic! Bagi yang sudah bosan dengan ayam kecap yang mengaku ayam kecap tapi rasanya hanya seperti semur biasa, Sun Kie akan menamparmu kembali ke alam sadar. Aroma bawang merah utuh pada jan ki keu dan ayam kecap memberikan suatu aroma yang khas, dan karena tidak diiris, aromanya tidak terlalu tajam. Ayam kecap dan jan ki keu menjadi juara malam ini.

foe joeng hay

jan ki keu

ayam kecap

Sebenarnya  tidak ada yang salah dengan restoran cina mainstream yang terus menjalar dengan segala modifikasinya, ataupun warung bakmi pinggir jalan yang hampir semuanya memiliki aroma yang sama. Tapi yang jelas rumah makan seperti Sun Kie ini sudah cukup langka. Makanan dan nuansa nya yang khas membuat Sun Kie istimewa di antara restoran cina lainnya. Dan yang pasti, saya akan kembali demi menikmati ayam kecap ini lagi. Terlalu nikmat untuk hanya dinikmati satu kali!

Cheers to Bimo karena telah merekomendasikan tempat ini.

by Ian Prasetyo

Advertisements
  1. 1. aku mau dong jadi featured guest 😀 caranya gimana?
    2. dicantumin yan halal apa enggaknya hehe…
    udah.
    bagus yan blognya. 😀

  2. sepertinya aku ngga perlu bertanya ini halal atau engga ya yan? hihihi

    btw, aku juga mau dong jadi featured guest. nanti gantian aku post di blogku foto2 masa jayamu deh. hahaha 😀

  3. alamat and denah, plus harga donk gan ^_^

    • harganya Rp17.500-an mas. hahaha aku sebenernya sengaja ga mencantumkan alamat (apalagi denah) untuk mengurangi kesan promosi, tapi kayaknya ini info yang paling banyak ditanyakan ya. haha
      besok-besok aku tanyain alamat sama yang punya tempat makan deh.
      ini di daerah Sayidan, kalau dari jalan Mataram, setelah gapura Sayidan langsung turun ke kiri mas. Kiri jalan.

  4. ahh shit.
    gue pengen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: